Rektor Universitas YARSI: Program MBG Kurangi Beban Ekonomi dan Tingkatkan Kehadiran Siswa
-
Program MBG dan Dampaknya terhadap Ekonomi Keluarga
Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran besar dalam meringankan tekanan ekonomi keluarga. Menurutnya, masih banyak anak yang harus absen dari sekolah demi membantu orang tua memenuhi kebutuhan harian.
"Hadirnya program ini mampu mengurangi hari absen karena kadang-kadang anak itu membantu orang tua untuk kebutuhan ekonomi, tetapi dengan MBG artinya dia sudah diberi makan di sekolah, jadi beban ekonomi orang tua kan berkurang, sehingga kehadiran anak di sekolah bisa meningkat," katanya dikutip dari Antara Jakarta, Jumat (21/11).
Dengan orang tua tak lagi dibebani biaya penyediaan makanan harian, anak-anak diharapkan dapat lebih rutin hadir di sekolah dan tidak lagi tertarik untuk meninggalkan kegiatan belajar demi bekerja membantu keluarga.
-
Menu MBG dan Pengaruhnya pada Fokus Belajar Siswa
Fasli menjelaskan bahwa rasa suka anak terhadap menu MBG yang disediakan juga memengaruhi partisipasi sekolah. Bila makanan yang diberikan membuat anak senang, maka motivasi mereka untuk datang ke sekolah akan meningkat.
"Anak kalau senang dengan makanan ini, dia akan rajin ke sekolah, jadi pembelajarannya akan lebih baik, sehingga semakin meningkat prestasi belajarnya. Dalam penelitian saya dulu, banyak anak makan terakhir itu pukul 17.00 WIB, kadang-kadang makan pagi enggak sempat buat sekolah, jadi gula darahnya sudah sangat rendah di jam 9.00 WIB atau 10.00 WIB," paparnya.
Ia menyebut kondisi gula darah yang rendah membuat anak sulit berkonsentrasi dan menghambat efektivitas pembelajaran, sehingga kehadiran makanan sehat dan tepat waktu sangat penting.
-
Masalah Anak Tidak Sarapan dan Dampaknya pada Kegiatan Sekolah
Fasli turut mengungkapkan bahwa banyak siswa yang kesulitan mengikuti pelajaran olahraga karena tidak sarapan.
"Malah kadang-kadang matanya mulai berkunang-kunang, olahraga kadang-kadang terjatuh dan segala macam, jadi MBG ini menjamin bahwa anak-anak diberikan makanan pada waktu yang diperlukan di sekolah, sehingga atensinya menjadi meningkat," ucapnya.
Dengan MBG, risiko kecelakaan ringan akibat kekurangan energi dapat ditekan, sekaligus membantu mencegah masalah gizi seperti stunting dan kekurangan nutrisi lainnya yang dapat menyebabkan anak putus sekolah.
-
Pentingnya Standar Keamanan Pangan dalam Program MBG
Meski mengapresiasi manfaat MBG, Fasli menegaskan bahwa keamanan pangan harus dijaga ketat, termasuk menerapkan toleransi nol terhadap potensi keracunan makanan.
"Dalam program gizi dan keamanan pangan, kita sebenarnya zero tolerance ya, jadi memang by design itu memang sudah harus ketat sekali bagaimana mencegahnya, tidak boleh ada satu anak pun yang terkendala. Namun, karena ini masih melibatkan banyak pihak, jadi memang standar-standar itu belum semuanya terpenuhi, jadi kemampuan dari juru masak, orang-orang yang mengantar, menyimpan, itu kan perlu ditingkatkan secara bertahap," paparnya.
Ia menekankan bahwa standar pengolahan dan penyimpanan makanan harus terus ditingkatkan agar kualitas menu MBG tetap aman dikonsumsi.
-
Peran Sekolah dalam Pengawasan Pangan MBG
Saat ini lebih dari 14 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah melayani lebih dari 44 juta penerima manfaat MBG. Dengan skala yang begitu besar, Fasli mendorong sekolah untuk turut aktif dalam memastikan keamanan makanan yang mereka terima.
"Di sekolah juga pada waktu menerima makanan kalau dia tidak langsung diberikan, kan disimpan dulu, jadi di mana disimpannya, bagaimana pengawasannya, dan bagaimana waktu agar jangan lebih dari empat jam sejak makanan itu dibungkus perlu diperhatikan dengan benar. Kalau perlu, yang kelas-kelas awal lebih cepat saja diberi makan, tidak perlu menunggu makan siang," tuturnya.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0