Menanam Gizi Dari Kebun PKBM Bravostar untuk Masa Depan Anak Indonesia
Daftar Isi
- Ketika Pendidikan, Lingkungan, dan Gizi Bertemu di Satu Lahan
- Gerakan Bersama dari Seluruh Civitas Akademika
- Dukungan Bibit dan Keyakinan akan Alam Ngada
- Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan Lokal
- Belajar dari Tanah: Pendidikan yang Membumi
- Menuju Panen Harapan
- Jeruk Siam sebagai Simbol Ketahanan Pangan
- Menghijaukan Lingkungan, Menyehatkan Kehidupan
- PKBM sebagai Motor Penggerak Sosial
- Menanam Hari Ini untuk Anak-Anak Esok Hari
-
Ketika Pendidikan, Lingkungan, dan Gizi Bertemu di Satu Lahan
Di tengah hamparan hijau Mataloko–Sarasedu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah kebun sederhana menjadi saksi lahirnya harapan baru. Bukan sekadar deretan pohon yang ditanam, melainkan benih masa depan yang dipersiapkan dengan kesadaran, gotong royong, dan visi jangka panjang.
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bravostar Mataloko mengambil langkah konkret untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan penanaman jeruk siam, lembaga pendidikan nonformal ini menegaskan bahwa upaya mencerdaskan bangsa tidak bisa dilepaskan dari pemenuhan gizi dan keberlanjutan alam.
Di kebun PKBM Bravostar, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh dari tanah yang digarap bersama. Sebanyak 150 anakan jeruk siam ditanam sebagai simbol komitmen terhadap ketahanan pangan dan penghijauan.
-
Gerakan Bersama dari Seluruh Civitas Akademika
Kegiatan penanaman jeruk siam ini bukan agenda seremonial semata. Seluruh civitas akademika PKBM Bravostar Mataloko terlibat aktif, mulai dari peserta didik hingga para tutor. Setiap tangan yang menyentuh tanah membawa kesadaran bahwa apa yang mereka tanam hari ini akan menjadi manfaat nyata di masa depan.
Founder PKBM Bravostar Mataloko, Benediktus Lagho, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran kontekstual. Peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung tentang pentingnya ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dilansir dari RRI, Kamis (25/12/2025), ia menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari visi besar PKBM Bravostar untuk menjadi pusat pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman.
-
Dukungan Bibit dan Keyakinan akan Alam Ngada
Bibit jeruk siam yang ditanam merupakan bantuan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ngada. Bantuan ini tidak diberikan secara sembarangan. Berdasarkan kajian kondisi geografis dan ketinggian wilayah, kebun PKBM Bravostar dinilai sangat cocok untuk pengembangan jeruk siam.
Tanah yang subur, iklim yang mendukung, serta ketinggian lokasi menjadi faktor utama yang membuat jeruk siam diyakini dapat tumbuh optimal. Dengan perawatan yang konsisten, tanaman ini diharapkan berkembang sehat dan produktif.
Keputusan menanam jeruk siam bukan tanpa alasan. Selain bernilai gizi tinggi, buah jeruk juga mudah diolah dan digemari berbagai kalangan, sehingga berpotensi besar mendukung kebutuhan pangan bergizi masyarakat.
-
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Pangan Lokal
Kegiatan penanaman ini juga menjadi bukti kuatnya kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pemerintah daerah. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Golewa bersama para penyuluh pertanian, serta Kepala UPTD Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ngada.
Kehadiran dinas teknis ini bukan sekadar formalitas. Para penyuluh memberikan pendampingan teknis terkait cara tanam, perawatan, hingga potensi pengendalian hama. Pendampingan ini penting agar tanaman yang ditanam tidak hanya hidup, tetapi benar-benar produktif.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan.
-
Belajar dari Tanah: Pendidikan yang Membumi
Bagi peserta didik PKBM Bravostar, kegiatan menanam jeruk siam menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Mereka tidak hanya memahami konsep penghijauan dari buku, tetapi merasakannya langsung melalui proses menggali tanah, menanam bibit, dan merawat tanaman.
Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan tertanam secara alami. Setiap pohon yang tumbuh menjadi pengingat bahwa hasil besar membutuhkan proses panjang dan konsistensi.
Dalam konteks pendidikan nonformal, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan. Peserta didik diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan harus berdampak langsung bagi kehidupan dan lingkungan sekitar.
-
Menuju Panen Harapan
Benediktus Lagho menargetkan bahwa dalam kurun waktu empat tahun ke depan, pohon jeruk siam yang ditanam akan mulai berbuah. Target ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari perencanaan jangka panjang PKBM Bravostar.
Hasil panen nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Dengan demikian, jeruk yang ditanam hari ini akan bertransformasi menjadi sumber vitamin dan energi bagi generasi mendatang.
“Melalui penanaman ini, kami mendukung program MBG di Kabupaten Ngada. Selain itu juga dalam rangka hijaukan Bumi,” ujar Bene Lagho.
Kutipan tersebut mencerminkan semangat ganda yang diusung PKBM Bravostar: memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
-
Jeruk Siam sebagai Simbol Ketahanan Pangan
Jeruk siam bukan sekadar tanaman buah. Di kebun PKBM Bravostar, ia menjadi simbol ketahanan pangan lokal. Dengan menanam dan memproduksi pangan sendiri, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Langkah ini sejalan dengan semangat kemandirian pangan yang kini terus digaungkan. Ketika lembaga pendidikan turut ambil bagian, ketahanan pangan tidak hanya menjadi wacana kebijakan, tetapi praktik nyata di tingkat akar rumput.
Selain untuk konsumsi, hasil panen juga berpotensi menjadi sumber ekonomi tambahan bagi komunitas sekitar, membuka peluang usaha berbasis pertanian lokal.
-
Menghijaukan Lingkungan, Menyehatkan Kehidupan
Aspek lingkungan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan ini. Penanaman 150 pohon jeruk siam turut berkontribusi pada upaya penghijauan wilayah Mataloko–Sarasedu. Pohon-pohon ini kelak akan membantu menjaga keseimbangan ekosistem, menyerap karbon, dan memperbaiki kualitas udara.
Di tengah tantangan perubahan iklim, langkah-langkah kecil seperti ini memiliki arti besar. Menghijaukan bumi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama, termasuk lembaga pendidikan dan komunitas lokal.
PKBM Bravostar menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
-
PKBM sebagai Motor Penggerak Sosial
Dengan adanya kegiatan ini, PKBM Bravostar Mataloko semakin menegaskan perannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan nonformal, tetapi juga sebagai motor penggerak sosial. Lembaga ini menjadi ruang bertemunya pendidikan, ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan.
Apa yang dilakukan PKBM Bravostar adalah contoh nyata bagaimana pendidikan dapat menjadi agen perubahan. Tidak menunggu instruksi, tidak menunggu program besar, tetapi memulai dari apa yang bisa dilakukan di lingkungan sendiri.
-
Menanam Hari Ini untuk Anak-Anak Esok Hari
Kebun jeruk siam PKBM Bravostar mungkin belum berbuah hari ini. Namun, setiap bibit yang ditanam menyimpan harapan bagi masa depan anak-anak Ngada. Harapan akan makanan bergizi yang lebih mudah diakses, lingkungan yang lebih hijau, dan masyarakat yang lebih mandiri.
Dari tanah Mataloko, sebuah pesan kuat disampaikan: masa depan tidak hanya dibangun di ruang rapat atau dokumen kebijakan, tetapi juga dari kebun kecil yang dirawat dengan cinta dan visi.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0