Ketika Gizi Menyapa Nabire: Antusiasme Siswa SMANSA Menyambut Program MBG
-
Pagi Baru untuk Gizi Anak Papua
Di Nabire, Papua Tengah, pagi selalu dimulai dengan denyut kehidupan yang khas, lapangan sekolah yang perlahan dipenuhi langkah kaki siswa, suara salam yang bersahut-sahutan, dan aroma tanah lembap yang akrab bagi siapa pun yang hidup di tanah ini. Namun sejak 24 November 2025, rutinitas itu diperkaya dengan sesuatu yang baru, kedatangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto yang kini tersebar di seluruh tanah Papua.
Program ini membawa tujuan yang sangat mendasar: memastikan pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak sekolah, hingga balita stunting. Namun di SMAN Negeri 1 Nabire atau yang akrab disebut SMANSA, program ini terasa lebih dari sekadar kebijakan pemerintah. Bagi para siswa, program ini menjadi pengalaman yang ditunggu-tunggu dan disambut dengan antusiasme yang tulus.
-
Antusiasme Para Murid dan Harapan yang Meningkat
Kepala SMANSA Nabire, Yanus Arwam, S.Sos., menuturkan bahwa sejak hari pertama program berjalan, semangat para siswa benar-benar terasa.
“Sudah berjalan di hari Senin, (24/11) di sekolah, dan kami harapkan programnya bisa berjalan rutin untuk 1.226 siswa,” tuturnya saat dihubungi RRI, Jumat (28/11/2025).
Nada suaranya menunjukkan kebanggaan sekaligus rasa syukur. Memberikan hidangan bergizi kepada 1.226 siswa bukanlah urusan sepele, terlebih di wilayah dengan kondisi geografis dan akses logistik yang menantang seperti Nabire.
Namun bagi Yanus, antusiasme murid-muridnya adalah alasan untuk bersemangat. Mereka menyambut program ini, bukan sekadar sebagai pembagian makanan gratis, tetapi sebagai perhatian langsung bagi kesejahteraan mereka.
-
Latar Belakang Program dan Jejak Perjalanannya
Program MBG di SMANSA bukan hadir tiba-tiba. Sebelum menyentuh gerbang sekolah menengah atas itu, program ini lebih dulu diluncurkan di SMP Negeri 1 Nabire pada Oktober 2025. Setelah keberhasilan pada tahap pertama, SMANSA pun segera dimasukkan dalam daftar penerima manfaat.
“Memang dari program ini sudah direncanakan semenjak kemarin di bulan Oktober saat dilounching SMP1,” jelas Yanus.
Sejak saat itu, percakapan antar siswa kerap diwarnai pertanyaan: kapan MBG tiba di sekolah mereka. Mereka melihat manfaat program tersebut di jenjang SMP, dan berharap bisa merasakan hal serupa.
-
Respon Murid yang Luar Biasa
Ketika hari itu akhirnya tiba, semangat mereka tak terbendung. Yanus mengungkapkan bahwa respons siswa sangat positif.
“Anak-anak merespon sekali MBG yang ditangani oleh pihak pengelola, dan diterima langsung oleh pihak sekolah,” ujarnya.
Tidak sulit memahami mengapa. Bagi sebagian siswa, makan pagi atau makan siang yang bergizi tidak selalu bisa didapatkan setiap hari. Latar belakang ekonomi keluarga yang beragam membuat MBG menjadi penyamarata kebutuhan dasar.
Yanus kembali menegaskan manfaat MBG ini bagi siswanya.
“Untuk MBG ini sangat membantu sekali untuk kita punya anak-anak yang kalau mau di lihat tingkat ekonominya bervariasi. Bahkan setelah dilaunching pertama kali di SMP 1, para murid sudah bertanya kapan kami juga bisa terima MBG,” pungkasnya.
Pertanyaan itu menggambarkan harapan besar. Mereka bukan meminta bantuan, tapi menunggu kesempatan untuk bisa berdiri sejajar, belajar, dan bertumbuh tanpa dibatasi keadaan ekonomi keluarga.
-
Jejak Gizi yang Mengubah Cerita Anak Sekolah
Selama bertahun-tahun, banyak daerah di Papua menghadapi tantangan yang berlapis: jauhnya akses pangan bergizi, biaya hidup yang tinggi, serta ketidakmerataan fasilitas pendidikan. Kehadiran program MBG menjadi intervensi nyata yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari generasi muda Papua.
Dengan MBG, para murid datang ke sekolah dengan energi baru. Mereka bisa belajar dengan lebih fokus karena kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Guru-guru pun melihat perubahan kecil yang berdampak besar—murid lebih aktif di kelas, lebih semangat mengikuti pelajaran, dan tidak sedikit pula yang mulai menyadari pentingnya gizi bagi tubuh mereka.
Program ini bukan hanya menciptakan rutinitas baru, tetapi membuka cara pandang baru bagi anak-anak Papua bahwa pendidikan dan kesehatan berjalan beriringan. Dan di Nabire, hal itu terlihat nyata.
-
Harapan agar Program Terus Berjalan
Yanus, yang setiap hari menyaksikan dinamika sekolah secara langsung, menyampaikan harapannya agar program MBG tidak sekadar menjadi proyek sementara.
Ia juga menitipkan pesan bagi para pengelola dapur MBG agar tetap menjaga kualitas pengolahan makanan, memastikan tidak ada masalah yang terjadi.
“Yanus berharap program ini terus berjalan, dan berpesan kepada pihak dapur pengelolah MBG dalam mengolah makan agar tidak ada permasalahan yg terjadi.”
Harapan itu datang bukan hanya dari kepala sekolah, tetapi juga dari ratusan siswa yang kini merasakan manfaat langsung dari program ini. Dalam konteks Papua yang begitu luas dan beragam, keberlanjutan MBG dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih sehat dan produktif.
-
MBG sebagai Gerakan Bersama
Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan pusat. Ia telah menjadi gerakan yang melibatkan banyak pihak—pemerintah daerah, sekolah, dapur MBG, guru, dan tentu saja para siswa yang menjadi penerima manfaat.
Di Nabire, program ini bukan hanya soal makanan. Ia menyatukan rasa kebersamaan, memperkuat ikatan antara sekolah dan murid, serta membuka peluang bagi setiap anak untuk tumbuh dengan lebih layak.
Pada akhirnya, gizi yang baik bukan sekadar memperkuat tubuh, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah. Oleh sebab itu, kehadiran MBG di SMANSA Nabire menjadi sebuah langkah penting yang pantas dirayakan.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0