Program MBG Dorong Ekonomi Daerah Melonjak, Perputaran Dana di Jateng Lampaui APBD
Semarang - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya meningkatkan kesehatan serta kecukupan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Dampaknya dinilai sangat signifikan, terutama bagi sektor pertanian dan industri pendukung.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, saat memberikan sambutan pada Rapat Konsolidasi Regional dalam rangka pengawalan Program MBG di Provinsi Jawa Tengah dan DIY, Senin (06/10).
Dadan mengungkapkan bahwa satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata memperoleh alokasi dana sekitar Rp9 hingga Rp10 miliar tiap tahun. Dengan jumlah SPPG di Jawa Tengah mencapai 3.200 unit, perputaran dana Program MBG di wilayah tersebut bisa menyentuh angka Rp32 triliun per tahun—melampaui APBD Jawa Tengah yang hanya sekitar Rp27 triliun.
“Artinya, uang dari Badan Gizi Nasional akan jauh lebih besar turun ke Jawa Tengah dibandingkan APBD Jawa Tengah itu sendiri,” ujar Dadan.
Ia merinci bahwa sekitar 85 persen dana tersebut dialokasikan untuk pembelian bahan baku, yang sebagian besar merupakan produk pertanian lokal. Sementara 10,5 persen lainnya digunakan untuk honorarium tenaga pelaksana SPPG. Perputaran ekonomi ini menciptakan dampak langsung bagi masyarakat di Jawa Tengah dan DIY.
Dadan menggambarkan kebutuhan satu SPPG setiap bulannya: sekitar lima ton beras yang setara dengan hasil panen dua hektar sawah. Selain itu, setiap SPPG membutuhkan suplai dari 1,5 hektar lahan pisang per tahun, 32 kolam bioflok lele berdiameter dua meter selama empat bulan, 4.000 ekor ayam petelur untuk produksi harian, serta 18 hektar lahan panen jagung sebagai pakan ayam.
“Inilah aspek ekonomi yang akan lahir dari program Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.
Tidak hanya sektor pertanian, industri dalam negeri ikut bergerak mendukung pelaksanaan program ini. Dadan mencontohkan industri peralatan dapur di Semarang yang kini mencatat lonjakan omzet hingga tiga sampai empat kali lipat. Bahkan, beberapa pabrik otomotif diketahui mulai melakukan diversifikasi produksi dengan membuat food tray untuk kebutuhan distribusi makanan MBG.
“Sebelum ada program MBG, tidak ada industri yang memproduksi food tray. Sekarang sudah ada 38 pengusaha food tray di Indonesia dengan kapasitas 12,8 juta buah per bulan, sedangkan kebutuhan kita mencapai 15 juta food tray setiap bulan,” tambahnya.
Meski memberikan dampak ekonomi besar, Dadan menekankan bahwa kualitas serta keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama. Ia mengingatkan bahwa tujuan akhir program ini adalah mewujudkan anak-anak yang sehat, cerdas, dan bahagia.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk menjaga komitmen dalam meningkatkan mutu pelaksanaan MBG agar manfaatnya dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0