Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Efektif Kurangi Kebiasaan Picky Eater pada Anak
Kebiasaan picky eater atau memilih-milih makanan termasuk tantangan yang sering dihadapi banyak orang tua. Anak yang tergolong picky eater cenderung menolak makanan tertentu, terutama sayuran, buah, atau sumber protein tertentu. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada pola makan jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan kesehatan anak dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kehadiran Program Makan Bergizi Gratis yang kini mulai diterapkan di sejumlah daerah menjadi salah satu peluang besar untuk membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
Program ini pada dasarnya menyediakan menu harian yang telah disesuaikan dengan kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral anak. Mengutip laporan Kompas pada 12 September 2024, pemerintah menegaskan bahwa salah satu tujuan utama program ini adalah “menekan angka malnutrisi sekaligus membangun perilaku makan sehat sejak masa sekolah dasar.” Dalam konteks ini, kesempatan untuk mengurangi risiko picky eater menjadi lebih terbuka karena anak terpapar ragam menu yang telah dirancang seimbang.
Namun, program apa pun tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan keluarga di rumah. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami strategi praktis agar menu Bergizi Gratis bisa digunakan sebagai alat mengurangi kebiasaan picky eater. Berikut beberapa pendekatan yang dapat dilakukan:
1. Kenalkan Variasi Rasa dan Tekstur Secara Bertahap
Salah satu pemicu anak menjadi picky eater adalah minimnya paparan terhadap variasi makanan. Ketika anak terbiasa hanya dengan beberapa jenis rasa atau tekstur, mereka cenderung menolak yang lain. Menu Program Makan Bergizi Gratis biasanya menghadirkan kombinasi makanan dengan warna, tekstur, dan kandungan gizi berbeda—mulai dari sayur berkuah, lauk protein hewani, hingga buah segar.
Orang tua dapat mendukungnya dengan menciptakan konsistensi antara menu sekolah dan makanan di rumah. Misalnya, jika hari itu anak mendapat menu ayam bumbu kuning dan sayur bening dari program, orang tua bisa menyajikan makanan serupa di rumah namun dalam bentuk berbeda, seperti ayam panggang atau tumis sayuran. Dengan cara ini, anak belajar bahwa variasi rasa adalah hal normal dalam makan sehari-hari.
Menurut ahli nutrisi anak, Dr. Rina Agustina (dikutip oleh Tempo, 19 Mei 2023), “paparan berulang terhadap makanan yang sama dalam bentuk berbeda bisa meningkatkan penerimaan anak hingga 70 persen.” Pernyataan ini mendukung pentingnya variasi dan repetisi dalam membangun kebiasaan makan yang sehat.
2. Libatkan Anak dalam Proses Pengambilan Keputusan Makan
Anak-anak cenderung merasa lebih senang dan bersemangat mencoba makanan baru ketika mereka dilibatkan dalam proses pemilihan makanan. Meskipun menu Program Makan Bergizi Gratis telah ditentukan sekolah, orang tua tetap dapat mengajak anak mendiskusikan makanan apa yang mereka sukai dari menu tersebut.
Tanyakan misalnya:
-
“Bagian mana yang paling kamu suka dari menu hari ini?”
-
“Kenapa kamu suka lauk itu?”
-
“Ada sayur yang mau kamu coba di hari berikutnya?”
Interaksi seperti ini membantu anak merasa dihargai, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk memahami hubungan antara makanan dan kesehatan tubuh.
Di rumah, keterlibatan dapat ditambah dengan mengajak anak menyiapkan makanan sederhana, seperti mencuci sayur atau menata buah. Anak yang berpartisipasi dalam proses penyajian makanan cenderung lebih mudah menerima makanan baru.
3. Hindari Memaksa Anak, Gunakan Pendekatan Positif
Memaksa anak makan hanya akan menimbulkan resistensi lebih besar dan memperkuat kebiasaan picky eater. Sebaiknya orang tua menggunakan pendekatan positif, seperti memberikan apresiasi saat anak mencoba makanan baru atau ketika mereka berhasil menghabiskan menu Program Makan Bergizi Gratis tanpa keluhan.
Alih-alih berkata “Ayo habiskan sayurnya sekarang!”, orang tua bisa menggunakan pendekatan yang lebih lembut:
-
“Coba satu sendok dulu, nanti kalau suka kamu boleh tambah.”
-
“Buah ini bikin badan kamu lebih segar setelah sekolah, mau coba?”
Pendekatan ini tidak membuat anak tertekan. Mereka justru merasa punya kendali, yang sangat penting untuk membangun kebiasaan makan sehat.
Dalam laporan CNN Indonesia pada 22 Februari 2024, psikolog anak Novi Sari menyebutkan bahwa “strategi persuasi positif lebih efektif daripada paksaan karena membantu anak merasa aman ketika mencoba makanan baru.”
4. Sesuaikan Ekspektasi Orang Tua dengan Perkembangan Anak
Penting untuk diingat bahwa picky eater tidak selalu menunjukkan masalah perilaku. Pada usia tertentu—terutama 2 hingga 6 tahun—anak memang sedang melalui fase alami dalam perkembangan rasa. Mereka bisa menolak makanan baru semata karena rasa ingin tahu.
Namun dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis, fase ini dapat diarahkan dengan lebih efektif. Menu yang bergizi seimbang dan beragam bisa menjadi sarana memperluas preferensi rasa anak tanpa tekanan.
Orang tua dapat menyesuaikan ekspektasi mereka dengan memahami bahwa:
-
Butuh 10–15 kali paparan sebelum anak menerima makanan baru.
-
Tidak apa jika anak tidak langsung menyukai semua lauk atau sayur dalam program.
-
Proses ini membutuhkan waktu dan ketelatenan.
Alih-alih mengharapkan anak langsung suka semua menu, cukup pastikan anak mencoba sedikit saja terlebih dahulu. Dengan konsistensi, preferensi anak akan berkembang.
5. Ciptakan Komunikasi Rutin dengan Pihak Sekolah
Kolaborasi antara orang tua dan pihak sekolah menentukan keberhasilan program dalam mengurangi picky eater. Dengan berkomunikasi rutin, orang tua bisa mengetahui menu mingguan, kandungan gizi, serta reaksi anak-anak saat makan bersama di sekolah.
Jika anak menolak makanan tertentu, orang tua dapat berdiskusi dengan guru atau petugas katering untuk menemukan solusi. Misalnya, jika banyak anak menolak jenis sayuran tertentu, sekolah bisa menyajikannya dalam olahan berbeda untuk mencoba meningkatkan penerimaan.
Menurut laporan Detik.com pada 10 Agustus 2024, beberapa sekolah di Jawa Tengah berhasil meningkatkan minat makan sayur pada anak melalui metode “makan bersama sambil bercerita”, di mana guru memandu cerita edukatif tentang manfaat sayuran dengan bahasa sederhana. Ini terbukti membuat anak lebih antusias mencicipi berbagai menu.
6. Bangun Suasana Makan yang Menyenangkan, Baik di Rumah maupun Sekolah
Suasana makan sangat mempengaruhi perilaku makan anak. Anak biasanya menolak makanan baru ketika suasana makan tegang, penuh teguran, atau terburu-buru. Program Makan Bergizi Gratis yang dilakukan di sekolah seringkali mengusung konsep makan bersama, yang dapat menciptakan atmosfer positif dan mendorong anak meniru teman-temannya.
Di rumah, suasana makan bisa diperbaiki dengan cara:
-
Tidak menggunakan gawai saat makan
-
Menghindari komentar negatif tentang makanan
-
Mencontohkan perilaku makan yang baik
-
Duduk bersama keluarga saat makan
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition Education and Behavior (2021) menunjukkan bahwa anak-anak lebih terbuka mencoba makanan baru ketika mereka melihat orang dewasa atau teman sebaya memakannya. Artinya, teladan orang tua sangat berpengaruh.
Menghindari kebiasaan picky eater pada anak bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dalam semalam. Namun dengan Program Makan Bergizi Gratis, peluang orang tua untuk membentuk pola makan sehat menjadi jauh lebih besar. Menu yang telah dirancang oleh ahli gizi dapat membantu anak mengenal variasi rasa dan nutrisi yang sebelumnya mungkin tidak mereka dapatkan di rumah.
Dengan menerapkan strategi seperti memperkenalkan variasi makanan secara bertahap, membangun komunikasi positif, melibatkan anak dalam proses makan, serta bekerja sama dengan pihak sekolah, orang tua dapat mendukung program ini agar berdampak nyata pada pola makan anak.
Pada akhirnya, kebiasaan makan sehat adalah investasi jangka panjang. Ketika anak terbiasa mengonsumsi makanan bergizi sejak dini dan tidak lagi memilih-milih makanan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat, fokus belajar, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0