Peran Chef Bersertifikat Jadi Kunci Mutu Program Makan Bergizi Gratis
Palembang - Keberhasilan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat ditentukan oleh keterlibatan chef profesional yang bersertifikat. Peran mereka dinilai penting untuk menjaga konsistensi, kualitas, keamanan, serta nilai gizi makanan yang disajikan bagi para siswa sekolah.
Hal tersebut ditegaskan Chef Didik selaku Humas Indonesia Chef Association (ICA) BPD Sumsel saat menjadi narasumber dalam acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Jumat (19/12/2025).
Chef Didik menjelaskan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi wajib memiliki chef profesional. Jika tidak, maka akan diberlakukan pembatasan produksi, yakni maksimal 2.000 porsi atau bahkan hanya sampai 100 porsi.
Hingga saat ini, menurutnya, menu MBG di Sumatera Selatan sudah tergolong sangat baik dan bervariasi. Kondisi tersebut tidak lepas dari peran banyak chef dari berbagai restoran yang kini beralih dan terlibat langsung sebagai chef MBG.
Dalam pengolahan makanan MBG, keberadaan chef profesional sangat dibutuhkan, terutama untuk mengolah sayuran menjadi menu yang menarik dari sisi tampilan dan penyajian. Upaya ini dilakukan agar makanan dapat diterima dengan baik oleh siswa, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA.
Pendekatan visual melalui permainan warna alami makanan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan minat siswa terhadap menu yang disajikan.
“Program MBG ini diharapkan siswa bukan hanya kenyang tapi makanan dengan menu dari para chef ini dapat membuat siswa sehat, kuat dan bisa konsentrasi dalam menyerap pelajaran di sekolah,” tegas Didik.
Ia menambahkan, peran utama para chef yang tergabung dalam ICA adalah memilih bahan baku berkualitas, menghadirkan inovasi menu, serta memastikan kandungan gizi dengan melibatkan tim ahli gizi. Selain itu, aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian utama, baik dalam proses memasak maupun pendistribusian makanan.
Proses pengolahan makanan dari tahap awal hingga siap dikonsumsi membutuhkan chef yang andal agar risiko keracunan dapat dihindari. Keracunan pada MBG, kata Didik, bisa terjadi akibat kontaminasi, baik dari faktor fisik pelaku, bahan kimia, maupun proses distribusi.
“Tantangan yang dihadapi para chef pada MBG ini dituntut untuk bekerja tepat waktu dari proses memasak. Penyajian yang menarik sampai ke pendistribusian makanan kemudian dituntut bisa menstandarisasi dan menstabilkan anggaran ditengah harga sembako yang terus naik,” jelas Didik.
Selain itu, kolaborasi antara pihak sekolah dan para chef juga sangat diperlukan, khususnya dalam menangani siswa yang memiliki alergi terhadap jenis makanan tertentu. Dalam kondisi tersebut, chef dituntut untuk berinovasi dengan bahan alternatif yang aman dan tidak menimbulkan reaksi alergi.
Melalui Program MBG, diharapkan para chef konsisten menggunakan bahan berkualitas dalam setiap menu yang disajikan kepada siswa. Langkah ini dinilai berpengaruh besar terhadap pertumbuhan anak ke depan, sekaligus membuka ruang bagi para akademisi dan ahli gizi untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan MBG.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0