Pemkab Blora Dorong Melon Hidroponik Lokal Masuk Rantai Pasok MBG

Dec 28, 2025 - 19:42
Pemkab Blora Dorong Melon Hidroponik Lokal Masuk Rantai Pasok MBG
Wakil Bupati Blora Sri Setyorini mencicipi melon hasil budidaya hidroponik di sebuah rumah tanam (green house) Desa Sambongrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Sabtu (27/12/2025). (Foto dok: Antara)

Blora - Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendorong petani lokal pembudidaya melon hidroponik untuk terlibat dalam rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bentuk dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wakil Bupati Blora Sri Setyorini menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menghubungkan pemasaran buah-buahan lokal dengan kebutuhan SPPG. Upaya ini ditujukan agar produk pertanian daerah memiliki kepastian pasar sekaligus berkontribusi pada pemenuhan gizi masyarakat.

“Nanti pemasarannya bisa kita hubungkan dengan SPPG. Kita dorong buah lokal seperti melon ini menjadi bagian dari Program Makan Bergizi Gratis,” ujar Sri Setyorini yang juga Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (Satgas MBG) Kabupaten Blora, Minggu (28/12).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Sri Setyorini mengunjungi open greenhouse TnJ Farm dan mengikuti panen melon hidroponik bersama warga Desa Sambongrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, pada Sabtu (27/12).

Dalam kunjungan itu, Wakil Bupati yang akrab disapa Budhe Rini mengapresiasi kualitas melon hidroponik hasil budidaya petani lokal. Menurutnya, potensi tersebut perlu terus dikembangkan agar mampu memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat.

“Kualitasnya sangat bagus. Ini tidak boleh berhenti di sini. Harus terus dikembangkan dan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai pemanfaatan produk hortikultura lokal tidak hanya berdampak pada peningkatan asupan gizi anak-anak dan masyarakat, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan daerah.

Di balik keberhasilan budidaya melon hidroponik tersebut, terdapat peran petani muda Dzaki Al Rozak yang mengembangkan usaha di greenhouse miliknya, TnJ Farm. Dzaki mengungkapkan bahwa dengan sistem hidroponik, lahan terbatas berukuran 15 x 14 meter mampu dimanfaatkan untuk menanam hingga 600 pohon melon dalam satu siklus tanam.

Di lahan tersebut, ia membudidayakan dua varietas unggulan, yakni melon Sweet Lavender dan The Blues. Seluruh proses penanaman dilakukan menggunakan sistem hidroponik di dalam greenhouse, sehingga pertumbuhan tanaman dapat dikendalikan secara optimal.

Masa panen relatif singkat, sekitar 2,5 hingga 3 bulan setelah tanam, dengan bobot rata-rata buah mencapai 1,5 kilogram per buah dan kualitas yang seragam.

“Melalui sistem hidroponik, kualitas buah lebih terjaga, penggunaan air lebih efisien, serta tanaman lebih terlindungi dari cuaca ekstrem maupun serangan hama,” ujarnya.

Selain itu, pengaturan nutrisi, kelembaban, dan pencahayaan dapat dilakukan secara presisi, sehingga produktivitas tanaman menjadi lebih maksimal.

Dzaki menambahkan, budidaya melon hidroponik tersebut telah berjalan selama satu tahun dengan modal awal sekitar Rp50–60 juta. Panen kali ini merupakan panen ketiga yang berhasil dilakukan, dengan hasil yang telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Rembang, Grobogan, Pati, Semarang, Brebes, dan Pekalongan, serta ke sejumlah wilayah di Jawa Timur, antara lain Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Surabaya, dan Malang.

Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa pertanian berbasis teknologi dapat diterapkan secara efektif di wilayah pedesaan dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian modern bisa dimulai dari lahan pekarangan. Harapannya, ini bisa menjadi inspirasi bagi petani lain, khususnya generasi muda, untuk terjun ke sektor pertanian berbasis teknologi,” ujarnya.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0