MBG Menggerakkan Harapan Baru di Lumajang

Dec 16, 2025 - 09:14
MBG Menggerakkan Harapan Baru di Lumajang
Bupati Lumajang Indah Amperawati. (Foto dok: Diskominfo Lumajang)
  • Ketika Program Makan Bergizi Gratis Menjadi Jalan Rezeki, Martabat Kerja, dan Masa Depan Anak

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini diterapkan di Lumajang tidak hanya menyentuh para siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini menjelma menjadi penggerak ekonomi akar rumput, membuka ruang kerja bagi warga, serta menghidupkan kembali harapan di tengah masyarakat.

  • Manfaat yang Menyentuh Banyak Lapisan

    Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan bahwa manfaat MBG dirasakan secara luas, bukan hanya oleh penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam rantai pelaksanaannya. Mulai dari tenaga penyiapan bahan baku, relawan dapur SPPG, hingga para pedagang kecil yang kini memiliki pasar tetap untuk produk mereka.

    "Wah, enak saiki bunda, aku saiki wis entuk kerjoan (enak sekali bunda, aku sekarang sudah dapat pekerjaan). Ngupas bawang saja Rp100 ribu, betapa bahagianya, saya kasihan, tapi juga senang. Karena itu, jangan khianati program ini," katanya, Minggu (14/12).

    Kutipan itu bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan potret nyata tentang bagaimana sebuah kebijakan publik mampu menghadirkan martabat melalui kerja. Di balik angka dan laporan, ada cerita ibu-ibu yang kini bisa membantu ekonomi keluarga, ada ayah yang kembali merasa berguna, dan ada rumah tangga yang lebih optimis menatap hari esok.

  • Program Mulia dengan Efek Berlapis

    Indah menilai Program MBG sebagai program yang mulia karena memiliki efek pengganda yang bisa dirasakan oleh hampir semua elemen masyarakat. Tidak berhenti pada penerima manfaat langsung, MBG juga menggerakkan penyedia bahan baku seperti pedagang tahu, tempe, sayuran, telur, dan berbagai produk pangan lokal lainnya.

    Menurutnya, MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan sebuah sistem yang menyatukan kepedulian sosial dan pemberdayaan ekonomi. Dari dapur SPPG, roda ekonomi lokal mulai berputar secara konsisten dan berkelanjutan.

    Di Lumajang sendiri, pemerintah daerah mendapatkan kuota pembangunan sebanyak 93 SPPG. Dari jumlah tersebut, 40 SPPG telah terisi, dan 33 di antaranya sudah mulai beroperasi. Angka ini menunjukkan progres yang signifikan sekaligus potensi besar yang masih terus dikembangkan.

  • Kesiapan Infrastruktur dan SDM

    Dalam upaya memastikan kualitas layanan, Pemkab Lumajang juga menaruh perhatian besar pada aspek standar dan kesiapan dapur. Saat ini, sebanyak 39 SPPG telah memiliki sertifikat uji air, 40 SPPG telah mengikuti pelatihan penjamin makanan, dan 12 SPPG sudah didukung oleh koki berpengalaman.

    Data ini menunjukkan bahwa MBG tidak dijalankan secara serampangan. Ada sistem, pelatihan, dan standar yang terus diperkuat agar makanan yang dihasilkan aman, sehat, dan layak konsumsi. Dengan fondasi ini, kepercayaan masyarakat terhadap program pun tumbuh secara alami.

  • Menjawab Keraguan dan Kritik

    Di tengah berbagai manfaat yang dirasakan, Program MBG tak luput dari kritik. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengakui bahwa masih ada suara-suara yang meminta agar program ini dihentikan sementara dengan beragam alasan.

    Menanggapi pengakuan Bupati Lumajang, Nanik mengungkapkan rasa syukurnya karena daerah-daerah seperti Lumajang justru menunjukkan bukti konkret dampak positif MBG.

    Menurut dia, saat ini banyak orang menyerang bahwa program MBG adalah proyek orang partai, proyek pejabat, proyek rekanan partai. Para mitra pun dituding berkolusi dengan Presiden. Padahal, Presiden tidak tahu siapa mereka.

    Kritik tersebut, menurut Nanik, muncul karena sebagian pihak hanya melihat MBG sebagai pembagian makanan semata, tanpa memahami dampak ekonomi yang jauh lebih luas.

    "Mereka melihat ini hanya pembagian kue, tapi tidak melihat multiplier effect yang diciptakan. Mereka akan melihat nanti enam bulan lagi mungkin, setelah semua, berapa pertumbuhan yang akan terjadi di Indonesia dari dampak dari makan bergizi gratis," ujarnya.

  • MBG sebagai Strategi Pembangunan Ekonomi

    Nanik menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto merancang Program MBG dengan visi yang jauh melampaui urusan makan. Program ini dirancang sebagai instrumen pembangunan ekonomi dari bawah, dengan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memacu pertumbuhan ekonomi daerah.

    Ia menyampaikan optimisme bahwa jika Program MBG berjalan dengan baik dan konsisten, pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai angka 7 hingga 8 persen. Angka ini bukan sekadar target ambisius, melainkan proyeksi yang berangkat dari perhitungan dampak ekonomi nyata.

    Ia mengutip Yayasan Rockefeller yang mengatakan bahwa multiplier effect dari pertumbuhan ekonomi di bawah seperti pada penerapan program MBG bisa mencapai 75 persen. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang luar biasa akan terjadi.

    "Ibu sudahlah merem saja. Nggak usah ngomong 75 kali, 10 kali saya nanti putarannya Rp10 triliun di Lumajang ini bu, luar biasa." tutur Nanik S. Deyang.

    Ungkapan tersebut menggambarkan keyakinan bahwa perputaran ekonomi dari dapur-dapur MBG mampu menciptakan dampak finansial yang signifikan di tingkat daerah.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0