MBG Hadir di SLB Trituna, Nutrisi dan Keceriaan Anak Berkebutuhan Khusus

Oct 15, 2025 - 08:56
MBG Hadir di SLB Trituna, Nutrisi dan Keceriaan Anak Berkebutuhan Khusus
iswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Trituna menikmati makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin (13/10/2025). (Foto dok: Antara)
  • Kebahagiaan Bagi Siswa SLB Negeri Trituna - Subang

    Senyum anak-anak memenuhi ruang kelas SLB Negeri Trituna, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ketika kotak makan bergizi dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersaji rapi di meja mereka. Sebanyak 146 siswa sekolah ini kini menjadi penerima manfaat program prioritas nasional yang digulirkan pemerintah, yang tak hanya menekankan gizi, tetapi juga mendukung perkembangan pendidikan anak berkebutuhan khusus.

    Kepala SLB Negeri Trituna, Lela Latifah, menjelaskan bahwa bantuan MBG mulai diterima sekolah tersebut sejak tiga minggu terakhir dan disambut antusias oleh siswa maupun orang tua.

    “Kami mendapatkan bantuan MBG ini untuk 146 anak. Untuk siswa di kelas jauh, makanannya dikirim dalam bentuk instan seminggu sekali. Sementara siswa di sekolah induk makan bersama di kelas dengan didampingi guru,” ujar Lela saat ditemui seusai kunjungan kerja tim Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Senin (13/10).

  • Makan Bergizi, Lingkungan Belajar Representatif

    Pembagian makanan MBG dilakukan setiap pagi sekitar pukul 10.00 WIB sesuai zona layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Subang. Bagi sebagian siswa dengan kebutuhan khusus, pendampingan dari guru atau orang tua menjadi bagian penting agar proses makan berlangsung tertib dan nyaman.

    Program MBG hadir bersamaan dengan revitalisasi ruang kelas yang sebelumnya sebagian besar mengalami kerusakan. Atap bocor dan fasilitas yang lapuk sempat mengganggu proses belajar, terutama saat musim hujan. Berkat bantuan revitalisasi senilai Rp390 juta dari Kemendikdasmen, sekolah kini memiliki empat ruang kelas baru, satu ruang pembelajaran khusus, satu ruang administrasi, dan satu toilet yang lebih layak.

    “Alhamdulillah, sudah sangat bermanfaat bagi anak-anak. Hanya saja karena karakteristik siswa SLB berbeda, sebagian masih perlu dibantu orang tua atau guru saat makan,” tambah Lela.

  • Cerita Siswa: Belajar Gizi Sejak Dini

    Di tengah suasana ceria, Irfan Agustia (20), siswa kelas 3 SMA SLB Trituna, bercerita tentang kegemarannya menikmati menu MBG.

    “Yang sangat saya suka makan sayur tumis MBG. Seperti ini saya tahu ini adalah bunga kol dan brokoli. Saya makan duluan, habis, baru ayam goreng dan nasi,” ujarnya.

    Irfan, yang merupakan siswa penyandang disabilitas netra, mengungkapkan bahwa konsumsi sayur tidak hanya menyehatkan tubuh tetapi juga membantu meningkatkan daya ingatnya. Pengetahuan ini didapat melalui modul sosialisasi yang diberikan oleh wali kelas dan tim gizi dari provinsi.

    “Katanya brokoli kaya asam folat. Ingatan akan jernih, itu saya butuhkan, karena saya suka matematika,” tambah Irfan dengan semangat. Cerita sederhana ini menunjukkan bagaimana MBG tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menjadi media edukasi gizi bagi siswa.

  • SPPG: Tulang Punggung Distribusi MBG

    Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat hingga Oktober 2025, sebanyak 10.012 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah terbentuk dan aktif beroperasi di seluruh Indonesia. SPPG berfungsi sebagai dapur komunitas yang menyiapkan makanan bergizi sesuai standar keamanan dan higienitas, yang kemudian disalurkan kepada seluruh penerima manfaat program MBG.

    Target pemerintah adalah menjangkau 82,9 juta penerima manfaat dari berbagai klaster, mulai dari balita, anak sekolah, ibu hamil, hingga santri pondok pesantren. Keberadaan SPPG menjadi kunci keberhasilan program, karena selain memastikan distribusi makanan bergizi, mereka juga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal dan mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah.

  • MBG: Lebih dari Sekadar Makanan

    Di SLB Negeri Trituna, MBG tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga mendorong pembentukan kebiasaan sehat dan keterampilan sosial siswa. Anak-anak belajar makan secara tertib, menghargai makanan, dan berbagi dengan teman sebangku. Bagi guru, kegiatan makan bersama ini menjadi momen interaksi yang berbeda, memperkuat hubungan emosional dan disiplin siswa.

    “Program MBG membuat suasana kelas lebih hidup. Anak-anak tidak hanya kenyang, tetapi juga belajar kebersamaan dan disiplin,” ujar Lela.

    Efek positif lainnya adalah meningkatnya kesadaran orang tua tentang pentingnya gizi bagi anak-anak mereka. Orang tua kini bisa melihat langsung dampak MBG bagi pertumbuhan dan konsentrasi anak di sekolah, terutama bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

  • Harapan MBG Terus Berlanjut

    Pelaksanaan MBG di SLB Trituna menjadi contoh bagaimana program pemerintah dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik sekolah dan siswa. Dengan dukungan SPPG, revitalisasi sekolah, dan pengawasan ketat terhadap kualitas makanan, diharapkan program ini tidak hanya menurunkan angka gizi buruk tetapi juga membangun generasi anak berkualitas dan mandiri.

    “Kami berharap MBG terus berlanjut, tidak hanya untuk SLB Trituna, tetapi juga untuk seluruh sekolah luar biasa di Indonesia. Ini bukan sekadar makan siang, tetapi investasi bagi masa depan anak-anak kita,” tutup Lela dengan harap.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0