Jejak Zero Waste dari Dapur MBG Banyuwangi - Magelang

Oct 27, 2025 - 10:23
Jejak Zero Waste dari Dapur MBG Banyuwangi - Magelang
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banyuwangi - Magelang. (Foto dok: BGN)
  • Dapur Bergizi yang Berpihak pada Lingkungan

    Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap limbah makanan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banyuwangi - Magelang menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengelola bahan pangan. Dengan prinsip zero waste sebagai fondasi kerja, dapur ini tidak hanya memaksimalkan efisiensi produksi, tetapi juga memprioritaskan keberlanjutan lingkungan dalam setiap proses.

    Sejak mulai beroperasi pada 7 Oktober 2025, SPPG tersebut langsung mencuri perhatian sebagai salah satu contoh nyata penerapan sistem pengolahan pangan modern yang nyaris tanpa sampah.

  • Setiap Bahan Diolah Tanpa Tersisa

    Ketua Yayasan Bina Bangsa sekaligus penanggung jawab SPPG, Hadi Pranoto, menjelaskan bahwa efisiensi menjadi kunci dari proses yang mereka jalankan.

    “Kami memastikan setiap bahan yang masuk ke dapur sudah sesuai gramasi dan bentuk potongan yang siap masak. Itu membuat proses produksi lebih cepat dan tanpa sisa,” ujarnya.

    Bahan pangan yang masuk ke dapur juga telah melalui tahap persiapan sejak dari pemasok. Semuanya datang dalam kondisi bersih, sudah dipotong, dan siap olah, menandakan adanya kolaborasi lintas sektor yang kuat untuk menjaga standar mutu sekaligus mempercepat proses kerja.

  • Digitalisasi untuk Mengurangi Kesalahan dan Memperkuat Akuntabilitas

    SPPG Banyuwangi - Magelang yang melayani 3.542 penerima manfaat ini juga mengandalkan sistem digital untuk memastikan setiap detail produksi tercatat dengan rapi. Setiap gastronom food pan kini dipasangi barcode untuk memudahkan pelacakan.

    “Teknologi ini membuat pengawasan lebih transparan dan akurat, sekaligus meminimalkan potensi kesalahan dalam distribusi bahan,” jelas Hadi.

    Fasilitas seperti chiller dan freezer berkapasitas besar turut menjaga kualitas bahan. Suhu yang diatur secara presisi memastikan semua bahan tetap segar ketika tiba waktunya dimasak, sebuah standar yang meningkatkan kualitas hidangan sekaligus memperpanjang umur simpan bahan pangan.

  • Mengolah Sisa Makanan agar Ramah Lingkungan

    Tidak hanya memperhatikan proses pengolahan bahan mentah, SPPG ini juga memastikan setiap sisa makanan dari Program MBG yang dikembalikan bisa ditangani dengan cara yang aman. Menggunakan alat khusus, sisa makanan dipisahkan dari gas dan timbalnya, lalu diolah menjadi cairan ramah lingkungan yang bisa dibuang tanpa mengancam alam sekitar.

  • Inovasi yang Mendapat Pengakuan Nasional

    Langkah-langkah yang dilakukan SPPG Banyuwangi–Magelang mendapat apresiasi langsung dari Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati.
    “SPPG Banyuwangi–Magelang bukan hanya dapur, tetapi sistem yang berpikir jauh ke depan. Mereka mengajarkan bahwa pangan bergizi bisa berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan,” ungkap Hida di Magelang, Sabtu (25/10).

    Ia menilai bahwa digitalisasi dan pengelolaan limbah yang diterapkan di dapur tersebut layak menjadi standar baru bagi pengelolaan dapur bergizi nasional.

    “Teknologi barcode, sistem sortir, hingga alat pengolah sisa makanan adalah ekosistem inovatif yang harus diperluas. Jika pola seperti ini diterapkan di semua SPPG, kita tidak hanya menekan food waste, tetapi juga menciptakan sistem pangan nasional yang lebih berkelanjutan,” tuturnya.

  • Menjadi Simbol Efisiensi dan Kepedulian

    Dengan sertifikasi SLHS dan IKL, SPPG Banyuwangi–Magelang kini dilihat sebagai wajah baru dapur masa depan—tempat di mana efisiensi, inovasi, dan tanggung jawab lingkungan menyatu dalam setiap sajian bergizi yang mereka hadirkan setiap hari.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0