Indonesia Jadi Rujukan Dunia: Jejak Program MBG yang Menginspirasi 112 Negara
-
Ketika Presiden RI Prabowo Subianto berdiri di hadapan para wisudawan Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Trans Convention Centre, Bandung, suasana ruang itu berubah menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Di hadapan para sarjana baru, Kepala Negara mengisahkan perjalanan sebuah kebijakan yang kini menjadi sorotan dunia: Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program yang pada awalnya dirancang untuk mengatasi persoalan gizi anak sekolah ini, perlahan berubah menjadi gagasan global yang dicermati, ditiru, bahkan diadaptasi oleh puluhan negara. Tidak banyak kebijakan sosial dalam sejarah Indonesia yang melahirkan resonansi sebesar ini. Dan Presiden Prabowo menyampaikan hal itu dengan bangga namun tetap reflektif.
“Program MBG ini baru 77 negara yang melaksanakan. Kita waktu itu, kalau tidak salah negara ke-78 atau ke-79. Sekarang, sudah ada 112 negara dan sebagian besar ikut contoh kita,” ujarnya kepada seluruh peserta sidang senat terbuka. Kalimat itu bukan sekadar angka itu sebuah penanda bahwa Indonesia tengah memainkan peran berbeda di panggung internasional, Sabtu (18/11).
-
Dari Keprihatinan Menjadi Inspirasi Global
Hampir satu tahun berjalan, kebijakan MBG membuka percakapan baru tentang bagaimana sebuah negara berkembang bisa menawarkan model program sosial yang kuat, terukur, dan dapat diperluas ke seluruh lapisan masyarakat. Menurut Presiden, dunia ternyata menyimak lebih dekat dari yang diperkirakan.
Dalam penyampaiannya di Bandung, ia mengingat kembali bagaimana berbagai lembaga internasional kini mulai menengok ke Indonesia untuk belajar mengenai langkah-langkah teknis hingga filosofi di balik program tersebut. Ia memberikan gambaran konkret:
“Seminggu yang lalu, saya menerima rombongan dari Rockefeller Institute yang sudah bekerja 100 tahun di bidang pangan, di bidang program antikelaparan dan antikemiskinan. Dia mengatakan program yang sedang dijalankan oleh Indonesia ini menjadi perhatian seluruh dunia,” kata Presiden Prabowo.
Rockefeller Institute bukan lembaga sembarangan. Sepanjang satu abad keberadaannya, mereka terlibat dalam riset dan advokasi berbagai program global terkait pangan dan kemiskinan. Ketertarikan mereka menjadi validasi tersendiri bahwa Indonesia tidak hanya menjalankan program makan gratis, tetapi juga sedang membangun paradigma baru dalam investasi sumber daya manusia.
-
Bagaimana Indonesia Menjadi Contoh?
Ketika Indonesia mulai meluncurkan MBG pada awal Januari 2025, jumlah negara di dunia yang memiliki program serupa masih berada di angka 77. Kini, lonjakannya mencapai 112 negara—dengan sebagian besar mengadopsi skema ala Indonesia. Model yang diterapkan pemerintah Indonesia dianggap menarik karena menggabungkan beberapa elemen krusial dalam satu paket kebijakan: gizi anak, pendidikan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pengurangan kemiskinan.
Beberapa negara tertarik karena Indonesia berhasil memadukan sistem pemasokan bahan pangan lokal dengan pelibatan petani, peternak, dan nelayan. Ini menciptakan efek berantai: program gizi yang berjalan berdampingan dengan perputaran ekonomi daerah.
Menurut Presiden Prabowo, keberhasilan ini tidak muncul dalam ruang hampa. Banyak negara selama puluhan tahun mencoba melakukan hal serupa, tetapi tidak semuanya mampu menciptakan model yang efisien dengan jumlah sasaran sebesar Indonesia.
-
Dampak Konkret di Lapangan: Angka yang Berbicara
Sejak dimulai secara bertahap pada 6 Januari 2025, Program MBG telah menunjukkan skala implementasi yang masif. Hingga Oktober 2025:
-
1,4 miliar porsi MBG telah dibagikan,
-
menjangkau 36,2 juta jiwa penerima manfaat yang terdiri dari anak-anak sekolah dan kelompok rentan,
-
serta didukung oleh 10.681 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Angka-angka ini menunjukkan dua hal: konsistensi pelaksanaan dan kemampuan logistik sebuah negara kepulauan besar seperti Indonesia dalam menjalankan program skala nasional. Tidak heran banyak negara menganggap Indonesia sebagai laboratorium kebijakan sosial yang menarik untuk dicermati.
-
-
Mengapa Dunia Tertarik?
Jika ditarik ke akar persoalan, program MBG bukan hanya soal memberikan makanan. Ia merupakan investasi jangka panjang dalam kapasitas otak dan kesehatan anak, fondasi paling penting dalam pembangunan manusia.
Kombinasi nilai sosial, ekonomi, dan kesehatan membuat MBG mendapat tempat di perhatian internasional. Negara-negara berkembang melihatnya sebagai model yang mungkin bisa diadaptasi untuk mengatasi kemiskinan dan kekurangan gizi. Negara-negara maju mempelajari aspek manajemen dan efektivitas anggaran dalam program berpenduduk besar.
Faktor kunci lainnya adalah pendekatan terintegrasi yang diterapkan pemerintah Indonesia. Presiden Prabowo menegaskan bahwa program ini tidak hanya menargetkan angka stunting atau gizi semata, tetapi juga menyalurkan dampaknya kepada rantai produksi lokal. Hasil pertanian, perikanan, dan peternakan menjadi bagian dari sistem penyediaan makanan, sehingga keuntungan ekonomi tersebar merata.
-
Jejak Panjang yang Baru Dimulai
Sebagai program prioritas nasional, MBG masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Namun dalam usia yang bahkan belum genap dua tahun, gaungnya sudah menjangkau berbagai belahan dunia. Fakta bahwa 112 negara kini ikut menjalankan program serupa menjadi bukti bahwa sebuah kebijakan dalam negeri bisa menjelma menjadi inspirasi global.
Indonesia mungkin tidak menyangka bahwa langkah sederhana seperti memberi makan anak sekolah dapat menjadi referensi bagi negara lain. Tetapi inilah kekuatan sebuah kebijakan yang dirancang dengan empati, data, dan visi jangka panjang.
Saat Presiden Prabowo menyampaikan pidatonya di Bandung, pesan yang ingin disampaikan bukan hanya kebanggaan nasional, tetapi juga tanggung jawab baru. Jika dunia menaruh mata ke Indonesia, maka perjalanan MBG harus berjalan lebih kokoh, lebih transparan, dan lebih berkualitas dari waktu ke waktu.
Karena ketika sebuah bangsa berhasil memberikan kesempatan setara bagi jutaan anak melalui seporsi makanan bergizi, bukan hanya perut yang kenyang—masa depan pun ikut terbentuk.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0