Ikhtiar Baru Mensos Gus Ipul dalam Memberi Gizi untuk Lansia dan Disabilitas

Nov 13, 2025 - 23:12
Ikhtiar Baru Mensos Gus Ipul dalam Memberi Gizi untuk Lansia dan Disabilitas
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
  • Makan Bergizi Gratis (MBG) Khusus

    Kehidupan di gang kecil Jakarta, para lansia yang tinggal sendirian, atau penyandang disabilitas yang tak lagi mampu memasak, sebuah kenyataan yang mungkin jarang terlihat oleh banyak orang. 

    Namun kehidupan sunyi para penerima manfaat inilah yang ingin dijangkau oleh program baru Kementerian Sosial: Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas.

    Program ini adalah bagian dari penyesuaian kebijakan sosial yang lebih besar, sebagai respon terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Sosial Saifullah Yusuf—lebih dikenal sebagai Gus Ipul—datang membawa kabar penting bagi jutaan keluarga yang berharap pada hadirnya negara dalam kehidupan sehari-hari.

    “Ini per menu Rp15.000, per menu Rp15.000 dua kali berarti Rp30.000,” ujar Gus Ipul kepada wartawan di Jakarta Selatan, Kamis (13/11/2025).

    Nilai itu bukan hanya angka. Di baliknya terdapat komitmen menyediakan makanan yang tidak sekadar mengenyangkan, tetapi memberi nutrisi yang sesuai untuk mereka yang rentan secara fisik. Dua kali sehari, makanan akan dikirimkan hingga ke depan pintu—sebuah layanan yang mengedepankan perhatian dan kepedulian.

  • Menyasar Mereka yang Paling Rentan: Usia di Atas 75 Tahun dan Penyandang Disabilitas

    Target program ini bukan sekadar “lansia”, tetapi lansia terlantar—mereka yang berusia di atas 75 tahun yang hidup sendiri, tanpa keluarga yang mampu mendampingi. Kelompok kedua adalah penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan intensif.

    Gus Ipul menjelaskan bahwa program ini adalah bentuk penyesuaian kebijakan agar sejalan dengan visi Presiden, tetapi tetap mempertahankan kepekaan sosial yang selama ini menjadi fokus Kementerian Sosial.

    Nah kita sesuaikan dengan program Bapak Presiden menjadi makan bergizi khusus berlansia dan penyandang kesehatan. Menyasar 100 ribu lansia, lansia terlantar maksudnya ya, lansia dengan usia di atas 75 tahun. Yang kedua penyandang kesehatan yang memang memerlukan bantuan,” jelasnya.

    Dalam banyak kasus, para lansia di atas 75 tahun menghadapi tantangan yang tak lagi bisa ditangani dengan sekadar bantuan sembako. Banyak dari mereka sulit memasak, sulit berbelanja, dan tinggal terlalu jauh dari keluarga. Program ini hadir sebagai jembatan antara kebutuhan harian dan keterbatasan fisik yang menghalangi mereka untuk memenuhi gizi secara layak.

  • Diantar Setiap Pagi, Tanpa Libur—Untuk Kehidupan yang Tetap Berjalan

    Salah satu fitur paling penting dari program ini adalah komitmen pelayanan tanpa hari libur. Tidak ada pengecualian untuk Sabtu atau Minggu, dan makanan dikirimkan setiap pagi meskipun porsinya dua kali makan.

    “Ini makan bergizi gratis sehari dua kali, pagi dan siang, tetapi diantarkan setiap pagi. Sehari sekali di pagi hari, tanpa mengenal hari libur, Sabtu atau Minggu,” ujar Gus Ipul.

    Hal ini menunjukkan pendekatan yang lebih humanis. Bagi lansia ataupun penyandang disabilitas, hidup tidak berhenti di akhir pekan. Mereka tetap perlu makan, tetap perlu nutrisi, tetap perlu diperhatikan. Pengantaran setiap pagi juga memastikan bahwa makanan yang diterima masih segar dan layak dikonsumsi.

    Bayangkan seorang nenek berusia 80 tahun yang tinggal sendirian. Pagi hari, ia mungkin tidak mampu berjalan ke dapur karena lututnya sudah tidak sekuat dahulu. Kehadiran seorang relawan yang mengetuk pintunya setiap pagi membawa makanan, adalah sebuah pengingat bahwa ia tidak ditinggalkan oleh masyarakat maupun negara.

  • Dikelola Langsung oleh Kementerian Sosial, Bukan BGN

    Menariknya, program MBG khusus lansia dan disabilitas ini tidak dijalankan di bawah Badan Gizi Nasional (BGN). Gus Ipul menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari pengembangan program sosial yang sudah ada di Kementerian Sosial.

    “Nggak (dari BGN), dari Kementerian Sosial, khusus dari Kementerian Sosial sebagai tindak lanjut dari program kita sebelumnya,” jelasnya.

    Dengan demikian, program ini memiliki karakteristik dan mekanisme tersendiri, terpisah dari MBG yang dijalankan BGN untuk anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lain. Fokusnya bukan skala besar, melainkan pendekatan yang lebih person-to-person.

    Direktur di Kemensos sudah sejak lama memetakan warga lanjut usia yang hidup sendiri. Data itulah yang menjadi dasar agar distribusi makanan benar-benar jatuh ke tangan mereka yang paling membutuhkan. Pengelolaan langsung oleh Kemensos juga memudahkan kontrol kualitas dan pendampingan sosial.

  • Dibantu Kelompok Masyarakat, Bukan Sekadar Pelaksana Tapi Juga Tetangga

    Pelibatan kelompok masyarakat menjadi aspek krusial. Dengan melibatkan kelompok lokal, distribusi bisa dilakukan lebih cepat dan lebih akrab, terutama karena sebagian penerima manfaat tinggal jauh dari pusat keramaian.

    “Ini dilayani oleh kelompok masyarakat setempat yang bisa menjangkau dengan cepat para lansia atau penerima manfaat,” ujar Gus Ipul.

    Keterlibatan masyarakat lokal juga memiliki efek sosial yang besar. Ia membantu memperkuat solidaritas sosial, menumbuhkan rasa gotong royong, dan mendorong kesadaran bahwa lansia dan penyandang disabilitas adalah tanggung jawab bersama. Selain itu, kelompok masyarakat yang dilibatkan memiliki pemahaman lebih baik terhadap kebutuhan masing-masing individu penerima.

    Banyak di antara relawan ini sebenarnya sudah mengenal para lansia tersebut sejak lama—mereka tahu rumahnya, kebiasaannya, hingga kondisi kesehatannya. Pendekatan ini membuat program lebih manusiawi dan efektif.

  • Meningkatkan Standar Menu dan Fasilitas Makan

    Walaupun program sejenis sudah pernah dijalankan sebelumnya, Gus Ipul mengakui bahwa masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.

    “Sudah ada, tapi masih perlu peningkatan ya. Misalnya soal menu-nya, soal tempatnya, tempat untuk makannya itu. Jadi ini masih belum, akan kita coba sesuaikan,” katanya.

    Peningkatan standar menu berarti lebih memperhatikan kandungan nutrisi, keseimbangan gizi, kebutuhan protein, serta jenis sayur atau buah yang sesuai untuk lansia. Gizi bagi lansia tidak sama dengan anak-anak—mereka membutuhkan makanan rendah lemak, rendah garam, tetapi tetap memiliki serat dan protein yang cukup.

    Fasilitas makan juga menjadi perhatian. Di beberapa wilayah, makan siang seringkali dimakan di tempat yang seadanya. Program baru ini memikirkan bagaimana agar makanan tidak hanya sampai, tetapi juga disantap dengan lebih nyaman dan layak.

  • Direncanakan Mulai Tahun Depan: Sebuah Transformasi Berkelanjutan

    Program ini ditargetkan mulai berjalan tahun depan, seperti yang disampaikan Gus Ipul usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan.

    “Tahun depan. Ini transformasi dari program kita sebelumnya lah. Kita kan juga ada per makanan untuk lansia. Nah ini akan kita perbaiki mulai dari menu-menunya dan lain sebagainya,” ujar Gus Ipul.

    Transformasi yang dimaksud adalah perubahan dari pemberian makanan seadanya menjadi layanan yang mempertimbangkan standar gizi, kenyamanan, serta keterlibatan masyarakat.

    Tujuannya sederhana: memastikan para lansia dan penyandang disabilitas dapat menikmati hidup dengan lebih bermartabat.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0