Di Antara Bukit Terjal Bima,Harapan Baru dari 20 Dapur Bergizi untuk Anak-Anak Desa Terpencil

Nov 26, 2025 - 23:58
Di Antara Bukit Terjal Bima,Harapan Baru dari 20 Dapur Bergizi untuk Anak-Anak Desa Terpencil
Rapat Satgas MBG digelar bersama Korwil BGN, Korcam BGN se-Kabupaten Bima, serta para investor SPPG terpencil di Kabupaten Bima, Selasa (25/11/2025). (Foto dok: Bahri)
  • Jejak Perjuangan, Kolaborasi, dan Kerja Senyap untuk Menghadirkan Gizi di Tanah 3T

    Di ujung timur Pulau Sumbawa, Kabupaten Bima menyimpan cerita panjang tentang perjuangan masyarakat pedesaan menghadapi akses makanan bergizi. Jalan berbatu, jarak antardesa yang saling berjauhan, serta keterbatasan infrastruktur membuat banyak anak sekolah mengandalkan apapun yang tersedia dari rumah untuk bertahan menjalani hari-hari belajar. Karena itu, ketika kabar mengenai pembangunan 20 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai menyebar di enam kecamatan, semangat baru muncul di tengah masyarakat.

    Dapur-dapur MBG ini bukan hanya ruang memasak. Di mata para orang tua, guru, dan perangkat desa, SPPG yang akan beroperasi di 20 desa itu adalah simbol hadirnya negara di tanah yang kerap dianggap jauh dari hiruk-pikuk pusat pemerintahan. Apalagi status wilayah terpencil, terdepan, dan terluar (3T) membuat Bima menjadi salah satu prioritas Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pemetaan layanan gizi anak sekolah.

    Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Bima, Bohri Rahman, adalah sosok yang banyak terlibat dalam proses awal pembangunan. Ia menjadi penghubung antara pemerintah daerah, masyarakat, dan para pihak yang terkait dengan proyek besar ini. Dengan suara tegas namun penuh empati, ia memaparkan gambaran perjalanan awal 20 dapur tersebut.

    “Lokasinya diusulkan oleh Satgas bersama SPPI di Kabupaten Bima dan ditetapkan oleh BGN,” ujar Bohri, Selasa (26/11/2025).

    Kalimat itu tampak sederhana, tetapi di baliknya tersimpan proses verifikasi panjang, survei lapangan yang menguras waktu, hingga diskusi teknis tentang kesiapan desa-desa yang akan menjadi tuan rumah.

  • Menyusuri Perjalanan Penetapan 20 Titik Dapur Gizi

    Rapat demi rapat digelar, mulai dari tingkat kecamatan hingga forum besar di kabupaten. Satgas MBG Kabupaten Bima bekerja berdampingan dengan Korwil BGN dan Korcam BGN se-Kabupaten Bima, serta investor yang ditugaskan membangun SPPG terpencil. Setiap lokasi yang diajukan bukan hanya dinilai dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari aspek kerentanan pangan, aksesibilitas, dan kondisi geografis yang kerap ekstrem.

    Dalam banyak diskusi itu, Bohri menegaskan bahwa penetapan titik dapur bukan proses yang ujug-ujug. Masukan masyarakat desa, pengamatan tenaga gizi, hingga data penerima manfaat turut menjadi dasar pengambilan keputusan. Di banyak desa, warga bahkan menunjukkan lokasi potensial untuk dapur, berharap wilayah mereka dapat tersentuh lebih dulu.

    Ia kemudian menambahkan gambaran tentang fase konstruksi yang sedang berjalan. “Penyelesaian pembangunan SPPG tidak mesti 35 hari, karena ada yang lebih dari waktu itu. Namun, diharapkan 20 SPPG terpencil di Kabupaten Bima ini bisa mulai beroperasi di awal 2026,” imbuhnya.

    Pembangunan dapur gizi, sebagaimana ia jelaskan, tidak melulu soal membangun fisik. Ada proses penyiapan tenaga masak, sistem logistik, hingga koordinasi dengan sekolah-sekolah agar distribusi makanan berjalan efektif.

  • Membangun Bukan Hanya Bangunan, Tetapi Rantai Gizi Baru

    Keberadaan SPPG di Bima bukan hanya menambah angka statistik program MBG nasional. Lebih dari itu, dapur-dapur ini adalah tumpuan harapan keluarga petani, peternak kecil, hingga para guru yang selama ini memantau langsung kondisi anak-anak di sekolah.

    Di banyak desa terpencil—yang aksesnya bergantung pada motor trail atau rakit ketika musim hujan—hadirnya dapur gizi berarti memotong jarak antara anak-anak dan makanan layak. Selama ini, tidak sedikit siswa yang hanya membawa bekal seadanya: nasi dingin, sisa lauk, atau kadang sekadar teh manis.

    Program MBG hadir untuk menutup celah itu.

    Dengan sistem SPPG terpencil, dapur akan berdiri lebih dekat dengan populasi penerima manfaat, tidak lagi mengandalkan distribusi dari pusat desa yang lebih besar. Hal ini sangat penting di wilayah 3T seperti Bima, yang geografisnya kerap memisahkan antarwilayah dengan bukit curam dan jalur licin.

  • Dari 73 Menjadi 93: Ekspansi yang Mengubah Lanskap Akses Gizi

    Menurut data dari portal BGN, hingga awal November 2025 jumlah SPPG aktif di Kabupaten Bima telah mencapai 73 titik. Terdiri dari:

    • 52 SPPG aglomerasi

    • 20 SPPG terpencil

    Namun dengan 20 titik baru yang sedang dalam tahap pembangunan, angka itu akan melonjak menjadi 93 dapur MBG, capaian yang belum pernah diraih sebelumnya.

    Bohri mengatakan bahwa jumlah tersebut sudah sejalan dengan rasio kebutuhan penerima manfaat di Bima. “Sesuai dengan jumlah rasio penerima manfaat, jumlah dapur ini sudah cukup terpenuhi,” pungkasnya.

    Pernyataan itu bukan sekadar evaluasi angka. Ia menandakan bahwa anak-anak di berbagai desa yang selama ini berada jauh dari jangkauan layanan kini tidak lagi harus menunggu: dapur-dapur itu akan hadir di dekat mereka.

  • Potret Harapan di Balik Setiap Piring Makanan

    Meski pembangunan fisiknya masih berlangsung, dampak sosial dari kehadiran SPPG baru ini sudah mulai terasa. Di beberapa desa, warga mulai berkumpul gotong-royong membersihkan lahan, menyiapkan tempat penampungan air, hingga menawarkan diri menjadi relawan dapur ketika nanti beroperasi.

    Para ibu di desa terpencil Kecamatan Donggo, misalnya, bercerita tentang betapa pentingnya makan bersama yang bergizi untuk anak-anak mereka yang sebagian besar berangkat sekolah selepas membantu orang tua di kebun. Mereka menyadari bahwa makanan yang layak bukan hanya memenuhi perut, tetapi juga menguatkan konsentrasi belajar.

    Sementara itu, para guru menyambut pembangunan dapur dengan antusias. Mereka selama ini menjadi saksi paling dekat atas dinamika anak-anak: dari yang suka mengantuk di kelas karena kurang makan, hingga yang sulit fokus lantaran energi yang tidak cukup.

    Dengan adanya MBG yang akan dijalankan dari 20 dapur baru itu, mereka percaya akan terjadi perubahan nyata.

  • Menjaga Asa untuk Awal Tahun 2026

    Satu hal yang paling ditunggu dari keterangan Bohri adalah waktu operasional. Target untuk mulai beroperasi pada awal tahun 2026 membuka kalender baru bagi Bima.

    Tahun itu diharapkan menjadi lembaran baru dalam layanan gizi anak sekolah, khususnya di daerah-daerah yang selama ini terisolasi. SPPG yang dibangun bukan hanya bangunan, tetapi infrastruktur masa depan yang akan melahirkan generasi lebih sehat, lebih produktif, dan lebih siap bersaing.

    Bohri dan tim Satgas MBG terus melakukan pemantauan serta koordinasi teknis agar tidak ada hambatan besar yang menghambat peresmian dapur-dapur ini. Harapan tersebut menjadi energi yang menjaga semangat para pelaksana di lapangan.

    Pada akhirnya, program MBG bukan hanya tentang pemberian makanan, tetapi tentang membangun ekosistem gizi yang berkelanjutan—mulai dari dapur desa hingga meja makan siswa.

    Dan di Kabupaten Bima, ekosistem itu kini sedang bertumbuh.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0