BGN Ungkap Penyebab Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat

Nov 11, 2025 - 08:49
BGN Ungkap Penyebab Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat
Siswa kekracunan di Lembang (Foto dok: Detik)

Jakarta - Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengungkap penyebab insiden keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Oktober lalu. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, BGN memastikan bahwa sumber keracunan bukan berasal dari kualitas air, melainkan dari tingginya kadar nitrit pada menu makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, menjelaskan kesimpulan ini diperoleh dari hasil rapid test dan uji laboratorium terhadap sampel makanan serta air bersih yang dilakukan oleh Labkesmas Bandung Barat.
“Hasil pengujian menunjukkan kadar nitrit dalam makanan cukup tinggi, sementara air di kedua dapur penyedia makanan tetap memenuhi standar kesehatan,” ujar Arie kepada wartawan, Senin (10/11/2025).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kandungan nitrit terdeteksi pada dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yaitu Kayu Ambon dan Cibodas 2. Di SPPG Kayu Ambon, nitrit positif ditemukan pada menu tumis pakcoy bawang putih yang tersisa di sekolah. Menu lengkap di lokasi ini terdiri dari nasi putih, ayam betutu Bali, tahu goreng, tumis pakcoy, dan pisang.

Sementara di SPPG Cibodas 2, hasil serupa juga ditemukan pada nasi putih, tumis wortel, jagung mini putren, dan kembang kol. Semua sampel positif mengandung nitrit, baik dari bank sampel maupun sisa makanan di sekolah. Menu di dapur ini adalah nasi putih, ayam giling bola-bola, tumis wortel, jagung mini, kembang kol, dan buah lengkeng.

Dari hasil pengujian lanjutan, kandungan nitrit di SPPG Cibodas 2 diketahui lebih tinggi dibandingkan Kayu Ambon. Kondisi ini sejalan dengan jumlah siswa yang terdampak, yakni 236 orang dari Cibodas 2 dan 44 orang dari Kayu Ambon.

Menurut Arie, proses memasak yang dilakukan terlalu dini turut memperburuk kondisi makanan. Dapur Cibodas 2 diketahui menyiapkan masakan sekitar pukul 02.00 dini hari dan baru dikirim ke sekolah sekitar pukul 06.30 pagi.
“Rentang waktu itu memungkinkan proses perubahan alami nitrat menjadi nitrit pada suhu ruang, sehingga kadar nitrit meningkat,” jelasnya.

Arie menambahkan, tidak ada siswa yang mengalami diare, sehingga penyebab utama keracunan dipastikan bukan bakteri. Ia menduga, tingginya kadar nitrit tersebut berasal dari pupuk tanaman pada sayuran yang digunakan.
“Kemungkinan besar pupuk yang digunakan memiliki kandungan nitrat tinggi yang kemudian berubah menjadi nitrit, melebihi ambang batas aman bagi tubuh,” ujarnya.

Sebelumnya, kasus keracunan massal ini terjadi pada Selasa (28/10/2025). Sebanyak 201 siswa dari beberapa sekolah di Lembang mengalami gejala mual, pusing, dan muntah setelah menyantap menu MBG. Gejala pertama kali muncul sekitar pukul 14.00 WIB pada tujuh siswa SMPN 4 Lembang, lalu jumlahnya meningkat tajam pada malam hari. Para siswa yang bergejala ringan dirawat di Posko Desa Cibodas, sementara yang lebih parah dirujuk ke RSUD Lembang, Puskesmas Cibodas, dan Klinik Sespim Polri.

Hingga kini, BGN menegaskan akan memperketat pengawasan terhadap proses penyimpanan dan distribusi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0