Asin di Lidah, Manis di Hidup: Kisah Yayak Surayak Dari Kandang Itik ke Dapur MBG
Daftar Isi
- Awal yang Sederhana dari Sebuah Usaha Kecil
- MBG Hadir, Harapan Baru Pun Tumbuh
- Lonjakan Penjualan yang Mengubah Kehidupan
- Pembayaran Cepat, Usaha Pun Berputar Lancar
- Dari Usaha Mandiri Menjadi Usaha Bersama
- Lapangan Kerja yang Lahir dari Telur Asin
- Menyesuaikan Proses Demi Gizi Anak
- Belajar dan Beradaptasi dengan Permintaan Baru
- Memperbesar Kandang, Menatap Masa Depan
- Keberanian Bermimpi Lebih Besar
- Harapan Agar MBG Terus Berjalan
- MBG Bukan Sekedar Program Gizi
-
Awal yang Sederhana dari Sebuah Usaha Kecil
Di Dusun Penjalinan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, hidup seorang peternak itik sekaligus perajin telur asin bernama Yayak Surayak.
Selama bertahun-tahun, kehidupannya berjalan apa adanya. Ia memelihara itik, memungut telur, lalu mengolah sebagian menjadi telur asin yang dijual ke pasar atau ke tetangga sekitar. Usahanya tak pernah benar-benar berkembang, namun cukup untuk menyambung hidup keluarga kecilnya.
Dalam sepekan, Yayak hanya mampu menjual sekitar 100 hingga 200 butir telur asin. Jumlah itu bergantung pada kondisi pasar dan daya beli warga. Kadang habis, kadang tersisa.
Ia tak pernah membayangkan bahwa dari usaha rumahan yang tampak sederhana itu, suatu hari akan lahir perubahan besar-bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi warga di sekitarnya.
-
MBG Hadir, Harapan Baru Pun Tumbuh
Titik balik itu datang ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan di wilayahnya. Dapur-dapur MBG yang dikelola oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, termasuk telur asin sebagai salah satu menu pendamping.
Bagi Yayak, kesempatan ini terasa seperti pintu yang terbuka lebar. Usahanya yang selama ini berjalan pelan tiba-tiba mendapat permintaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari yang semula hanya menjual ratusan butir telur asin per minggu, kini ia harus bersiap memenuhi pesanan ribuan butir.
-
Lonjakan Penjualan yang Mengubah Kehidupan
Perubahan itu begitu terasa. Yayak mengungkapkan bahwa sejak menjadi pemasok dapur MBG, penjualannya melonjak drastis. “Alhamdulillah, sejak adanya MBG di sini, peternak itik seperti kami menjadi sangat terbantu. Kalau selama ini kami hanya bisa menjual 100 sampai 200 butir telur per minggu, sekarang sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 butir telur asin dan langsung dibayarkan,” kata Yayak saat ditemui di rumahnya, di Dusun Penjalinan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu, akhir pekan lalu.
Jika dihitung secara persentase, peningkatan itu mencapai 2.900 hingga 4.900 persen. Angka yang bagi perajin kecil seperti Yayak terasa nyaris tak masuk akal. Namun itulah kenyataan yang kini ia jalani sehari-hari.
-
Pembayaran Cepat, Usaha Pun Berputar Lancar
Salah satu hal yang paling disyukuri Yayak adalah sistem pembayaran yang cepat dan pasti. Telur asin yang dikirim langsung dibayarkan, sehingga ia tidak perlu menunggu lama atau khawatir soal modal yang tersendat. Perputaran uang yang lancar membuatnya lebih berani merencanakan pengembangan usaha.
Bagi usaha kecil, kepastian pembayaran sering kali menjadi kunci bertahan hidup. MBG, dalam hal ini, bukan hanya membuka pasar baru, tetapi juga memberi rasa aman bagi pemasok kecil seperti Yayak.
-
Dari Usaha Mandiri Menjadi Usaha Bersama
Lonjakan permintaan membuat Yayak tak lagi mampu bekerja sendirian. Jika sebelumnya seluruh proses—mulai dari membersihkan telur, mengasin, hingga mengemas - ia lakukan sendiri, kini tenaga satu orang jelas tidak cukup. Perlahan, ia mulai mengajak ibu-ibu tetangga di sekitar rumahnya untuk ikut membantu.
“Sekarang ada 4 sampai 5 orang yang membantu, sementara satu orang lagi untuk packing,” ujarnya. Bagi para ibu rumah tangga di dusun itu, pekerjaan ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat berarti. Mereka bisa bekerja dekat rumah, sambil tetap mengurus keluarga.
-
Lapangan Kerja yang Lahir dari Telur Asin
Apa yang dilakukan Yayak menunjukkan bagaimana satu usaha kecil bisa menciptakan efek berantai. Dari kandang itik di halaman rumahnya, kini tercipta lapangan kerja baru. Warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap kini memiliki rutinitas dan pemasukan.
Lebih dari sekadar soal uang, kebersamaan ini menumbuhkan rasa saling membantu. Usaha telur asin Yayak tidak lagi menjadi milik pribadi semata, melainkan menjadi sumber penghidupan bersama.
-
Menyesuaikan Proses Demi Gizi Anak
Menjadi pemasok MBG juga menuntut penyesuaian dalam proses produksi. Telur asin yang disajikan untuk anak-anak dalam program MBG harus memiliki rasa yang lebih ringan, tidak terlalu asin. Karena itu, Yayak harus mengubah metode yang selama ini ia gunakan.
“Waktu pengasinannya lebih cepat, supaya tidak terlalu asin,” kata Yayak. Jika telur asin untuk pasar umum biasanya memerlukan waktu 12 hingga 15 hari, telur asin untuk MBG cukup diasinkan selama 7 sampai 8 hari. Perubahan ini membuat proses produksi menjadi lebih cepat, sekaligus menuntut ketelitian agar kualitas tetap terjaga.
-
Belajar dan Beradaptasi dengan Permintaan Baru
Penyesuaian ini menjadi proses belajar bagi Yayak. Ia harus memastikan rasa telur tetap enak, tekstur pas, dan kualitas terjaga meski diproduksi dalam jumlah besar. Pengalaman bertahun-tahun sebagai perajin membantunya beradaptasi dengan cepat.
Dalam proses ini, Yayak tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga meningkatkan standar usahanya. Ia mulai lebih disiplin dalam pengelolaan waktu, kebersihan, dan pengemasan.
-
Memperbesar Kandang, Menatap Masa Depan
Permintaan yang terus meningkat dari beberapa dapur MBG di wilayah Kecamatan Sumber Sari membuat Yayak mulai berpikir jauh ke depan. Ia menyadari bahwa untuk menjaga keberlanjutan usaha, ia harus menyiapkan stok telur yang lebih banyak.
Karena itu, Yayak mulai memperbesar kandang dan menambah jumlah itik yang dipeliharanya. “Kita tambah bebeknya, kita kembangkan usaha peternakannya dulu,” ujarnya. Langkah ini bukan tanpa risiko, namun ia merasa lebih percaya diri karena ada kepastian pasar.
-
Keberanian Bermimpi Lebih Besar
Bagi Yayak, keberanian untuk menambah itik dan memperbesar kandang adalah sesuatu yang dulu sulit ia bayangkan. Sebelum MBG hadir, usahanya berjalan di tempat, tanpa kepastian. Kini, ia berani bermimpi lebih besar—bukan menjadi pengusaha besar, tetapi menjadi perajin yang mapan dan mampu menghidupi banyak orang.
-
Harapan Agar MBG Terus Berjalan
Dengan segala perubahan positif yang ia rasakan, Yayak menyimpan harapan besar agar Program Makan Bergizi Gratis dapat terus berlanjut. “Sebab, perajin kecil seperti saya ini sangat terbantu, karena omsetnya naik sampai 3000 persen, perputarannya cepat, dan sampai ke kami-kami ini. Selain itu, banyak warga yang bisa bekerja,” kata lelaki itu.
Harapan tersebut bukan hanya demi keberlangsungan usahanya, tetapi juga demi warga sekitar yang kini ikut bergantung pada aktivitas produksi telur asin.
-
MBG Bukan Sekedar Program Gizi
Kisah Yayak Surayak menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi anak. Di balik piring makanan bergizi yang sampai ke tangan para penerima manfaat, ada cerita tentang perajin kecil yang bangkit, tentang warga desa yang kembali bekerja, dan tentang roda ekonomi lokal yang berputar.
Dari telur asin yang dulu hanya dijual ratusan butir, kini lahir ribuan harapan baru. Di Dusun Penjalinan, telur asin bukan lagi sekadar lauk, melainkan simbol perubahan dan kebersamaan yang tumbuh dari kerja keras dan kesempatan.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0