4.535 Dapur MBG Lulus Sertifikasi Higiene, Wamenkes Dorong Standar Sanitasi Terus Ditingkatkan

Jan 8, 2026 - 13:15
4.535 Dapur MBG Lulus Sertifikasi Higiene, Wamenkes Dorong Standar Sanitasi Terus Ditingkatkan
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus (dua dari kanan), Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang (kanan) mengunjungi SMK Negeri 1 Jakarta di hari pertama MBG digulirkan kembali di sekolah di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Jakarta -Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan bahwa hingga Januari 2026 sebanyak 4.535 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dinyatakan memenuhi standar dan mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Benjamin menekankan pentingnya peran Dinas Kesehatan di seluruh daerah untuk terus mendorong peningkatan jumlah SPPG yang lolos sertifikasi. Pasalnya, jumlah tersebut baru mencakup sekitar 23 persen dari total 19.188 SPPG yang telah berdiri di berbagai wilayah Indonesia.

“Alhamdulillah, sampai hari ini sudah 4.535 SPPG yang lulus sertifikasi. Prosesnya tidak sederhana karena mencakup pemeriksaan menyeluruh, termasuk uji laboratorium. Jika masih ada kekurangan, tentu harus diperbaiki terlebih dahulu hingga memenuhi standar,” ujarnya saat meninjau pelaksanaan hari pertama MBG tahun 2026 di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis (8/1).

Dalam kesempatan itu, Wamenkes juga mengingatkan pihak sekolah agar menjalankan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Perluasan Penerima MBG. Ia menegaskan bahwa penerima manfaat tidak hanya siswa, tetapi juga guru, tenaga tata usaha, hingga petugas kebersihan.

“Presiden telah memutuskan perluasan penerima MBG. Jadi jangan hanya murid yang mendapatkan, semua tenaga di sekolah ini juga harus merasakan manfaatnya,” kata Benjamin.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dampak program MBG terhadap peningkatan status gizi siswa harus dihitung secara cermat dan berbasis medis. Menurutnya, evaluasi manfaat kesehatan tidak bisa dilakukan secara instan atau sekadar perkiraan.

“Efek langsungnya harus dikaji secara medis dan tidak bisa asal. Ini butuh proses dan ketelitian. Saat ini belum bisa langsung disampaikan dalam bentuk angka, karena semua harus dihitung dengan standar kesehatan yang jelas,” jelasnya.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0