Program MBG Dorong Gizi Anak dan Gerakkan Ekonomi Lokal

AdeAde
Oct 23, 2025 - 21:50
Program MBG Dorong Gizi Anak dan Gerakkan Ekonomi Lokal
Talkshow bertajuk “Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa Melalui Program Makan Bergizi Gratis” di Antara Heritage Center, Jakarta, Kamis (23/10). (Foto dok: BGN)

Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bentuk kepedulian pemerintah untuk mendukung pertumbuhan anak-anak Indonesia agar sehat, cerdas, dan berdaya saing, sekaligus menggerakkan roda perekonomian rakyat.

“Selain meningkatkan asupan gizi anak-anak, program ini juga menggerakkan ekonomi rakyat karena melibatkan jutaan tenaga kerja dari dapur hingga penyedia bahan pangan,” ujar Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang dalam talkshow bertajuk “Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa Melalui Program Makan Bergizi Gratis” di Antara Heritage Center, Jakarta, Kamis (23/10).

Hingga Oktober 2025, MBG telah menjangkau lebih dari 36 juta penerima manfaat melalui lebih dari 12.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia.

“BGN terus memperkuat standar mutu dengan penerapan sertifikasi SLHS dan HACCP di setiap dapur penyedia MBG, serta mewajibkan keberadaan chef profesional untuk menjamin keamanan pangan,” kata Nanik, yang hadir sebagai keynote speaker.

Program MBG memberikan efek berlapis terhadap ekonomi nasional. Setiap dapur MBG melibatkan sekitar 50 tenaga kerja langsung serta 10–15 pemasok bahan pangan lokal. Totalnya, lebih dari 1,6 juta pekerja langsung dan 2,5 juta pekerja tidak langsung terlibat, termasuk industri pendukung seperti peralatan dapur dan kendaraan distribusi.

“Kami menyadari program ini belum sempurna, namun terus berbenah dan terbuka terhadap evaluasi, kritik, dan kolaborasi. Tujuan utama adalah masa depan anak-anak Indonesia,” tambah Nanik.

Dalam diskusi, Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan ORPP BRIN, Satriyo Krido Wahono, menekankan perlunya inovasi dan riset pangan lokal untuk mendukung keberlanjutan MBG.

“Penyediaan gizi harus seimbang sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional melalui riset berbasis bahan pangan lokal,” ujarnya.

Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menekankan bahwa peningkatan gizi perlu disertai edukasi masyarakat.

“Pendidikan gizi harus menjadi bagian dari budaya, seperti konsep shokuiku di Jepang. MBG bisa menjadi pintu masuk membangun kesadaran gizi sejak dini di sekolah,” kata Prof. Tjandra.

Food Safety Chef dan pengurus Indonesian Chef Association, Handry Wahyu Sumanto, menekankan pentingnya pengawasan keamanan pangan di setiap dapur MBG.

“Dengan pelatihan dan sertifikasi yang tepat, kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak tetap terjamin,” jelas Handry.

Selain gizi dan keamanan pangan, BGN juga menegaskan komitmen pengelolaan limbah dapur dan kemasan. Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyebut setiap SPPG wajib memiliki sistem manajemen limbah yang terverifikasi.

“Kami bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan berbagai pihak untuk memastikan limbah dikelola dengan baik. Beberapa SPPG mengubah sisa makanan menjadi biosolar, biogas, atau kompos melalui lubang biopori,” ujarnya.

“Sebagian limbah dapur MBG juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pakan lele, dan maggot. Sampah anorganik didaur ulang menjadi produk kerajinan siap pakai, bekerja sama dengan organisasi masyarakat dan yayasan lokal di sekitar SPPG,” pungkas Hida.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0