Dinkes Pandeglang Perketat Pengawasan GGL pada Program MBG untuk Cegah Obesitas Anak

AdeAde
Dec 29, 2025 - 09:33
Dinkes Pandeglang Perketat Pengawasan GGL pada Program MBG untuk Cegah Obesitas Anak
Dinas Kesehatan Pandeglang mengawasi kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga kualitas gizi anak sekolah. (Foto fok: Dinkes Pandeglang)

Pandeglang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang menyatakan terus melakukan pengawasan ketat terhadap kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan karena komposisi GGL yang tidak sesuai berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, khususnya pada anak usia sekolah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pandeglang, Encep Hermawan, menjelaskan bahwa pengawasan GGL dalam menu MBG ditujukan untuk mencegah munculnya risiko baru berupa obesitas di lingkungan sekolah. Dinkes menargetkan angka obesitas anak tidak melampaui ambang batas 4 persen, mengingat kelebihan berat badan memiliki dampak kesehatan yang sama seriusnya dengan kekurangan gizi.

“Gizi itu ada protein, ada sayuran, ada vitamin. Jadi bukan hanya protein nabati seperti tahu tempe, tapi harus ada protein hewani. Itu yang sebetulnya sangat baik untuk anak sekolah yang sebelumnya mungkin jarang menemui makanan bergizi setiap hari,” ucap Encep, Minggu (28/12/2025).

Ia mengakui, karena Program MBG baru berjalan sekitar satu tahun, data kuantitatif terkait perubahan status gizi siswa belum terlihat secara signifikan. Namun demikian, Encep meyakini bahwa intervensi gizi seimbang yang diterapkan melalui MBG secara teori memiliki potensi besar untuk meningkatkan status gizi anak sekolah pada tahun-tahun mendatang. Program ini juga dinilai efektif menjangkau siswa yang selama ini mengalami keterbatasan akses terhadap makanan sehat dengan komposisi lengkap.

Kehadiran protein hewani, sayuran, serta vitamin dalam menu harian di sekolah diyakini mampu mengurangi ketergantungan anak pada protein nabati sederhana, seperti tahu dan tempe, yang selama ini mendominasi pola konsumsi harian.

Berdasarkan catatan Dinkes Pandeglang, kondisi gizi masyarakat saat ini masih didominasi oleh kategori gizi baik. Sementara itu, angka gizi kurang dan gizi buruk tercatat berada pada kisaran 1,9 persen. Meski relatif kecil, Encep menilai intervensi melalui Program MBG tetap penting agar angka tersebut tidak meningkat akibat pola makan yang tidak teratur.

“Harapannya nanti di tahun depan status gizi anak-anak bisa meningkat melalui intervensi makanan bergizi yang tepat di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Melalui integrasi Program Makan Bergizi Gratis, Dinkes Pandeglang berharap dapat membangun standar baru pola makan anak sekolah yang lebih sehat dan terukur. Penekanan pada keseimbangan nutrisi ini menjadi fondasi penting agar generasi mendatang terhindar dari beban ganda malnutrisi, yakni kondisi ketika masalah kekurangan gizi dan obesitas terjadi secara bersamaan dalam satu wilayah.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0