Dari Ladang ke Piring Sekolah, SPPG Demulih Menguatkan Gizi Anak dan Ekonomi Desa

Dec 14, 2025 - 15:49
Dari Ladang ke Piring Sekolah, SPPG Demulih Menguatkan Gizi Anak dan Ekonomi Desa
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN saat mengunjungi SPPG Demulih, Sabtu (13/12/2025).

Bangli - Di pagi hari yang masih diselimuti kabut di Desa Demulih, Bangli, aktivitas para petani telah dimulai sejak dini. Selada yang masih basah oleh embun, wortel segar yang baru diangkat dari tanah, hingga telur dari peternak rumahan menjadi bagian dari rantai pasok pangan lokal yang kini memegang peran penting dalam menu harian anak-anak sekolah. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Demulih, hasil bumi desa ini menempuh perjalanan yang bukan hanya tentang pemenuhan gizi, tetapi juga tentang harapan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat setempat.

Setiap hari, tim SPPG Demulih menerapkan proses seleksi bahan pangan yang ketat. Seluruh bahan yang dibeli harus melalui pengecekan kualitas dan kesegaran. Bagi para petani, standar tersebut menjadi sumber kebanggaan tersendiri. Hasil panen mereka tidak sekadar dipasarkan, tetapi dihargai sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan generasi muda.

“Standar yang diterapkan SPPG membuat petani belajar meningkatkan kualitas panen. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi ikut membangun kesehatan anak-anak desa sendiri,” ujar Khairul Hidayati, Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN) di Bali, Sabtu (13/12).

Di dapur SPPG, bahan-bahan pangan lokal tersebut kemudian diolah menjadi menu bergizi oleh tenaga terlatih. Kesegaran bahan baku mendukung proses memasak yang lebih optimal, menghasilkan aroma alami dan cita rasa yang lebih kuat. Bagi SPPG Demulih, makanan yang baik berawal dari hubungan yang sehat antara dapur dan para petani, pedagang kecil, serta pelaku UMKM pangan.

Karena itu, rantai pasok dibangun tidak semata untuk efisiensi, melainkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi yang saling menghidupi.

Kerja sama dengan SPPG Demulih juga membuka peluang baru bagi pelaku UMKM. Banyak ibu rumah tangga di desa kini terlibat dalam produksi bahan olahan pendamping menu, seperti tempe segar, bumbu siap pakai, hingga roti.

Keterlibatan ini tidak hanya menambah pendapatan, tetapi juga meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri, karena hasil kerja mereka berkontribusi langsung pada pemenuhan gizi anak-anak sekolah.

Dampak ekonomi dari model ini terasa nyata di tingkat desa. Dengan sistem pembelian langsung dari petani dan UMKM, perputaran uang tetap berada di lingkungan lokal. Petani memperoleh harga yang lebih adil, UMKM dapat meningkatkan kapasitas produksi, dan masyarakat berperan aktif dalam menjaga kualitas pangan bagi anak-anak.

“Inilah kekuatan model berbasis komunitas. Ketika pangan bergizi diproduksi dari sumber lokal, manfaatnya kembali ke masyarakat. Anak-anak sehat, petani sejahtera, dan desa tumbuh bersama,” tambah Hida.

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0